Jumat, 03 Juli 2020

Siapa Fikar

Fikar Lunggana,
Selamat hari indah buat kalian semua Para pemimpi. Semoga harimu menyenangkan dan membahagiakan. Aku Fikar Lunggana, hari ini resmi 10 tahun aku merantau. Meninggalkan kota kelahiran, meninggalkan orang tua, serta adik-adik yang belum banyak paham tentang urusan orang dewasa. Kala itu...

Pagi di kota kelahiran, di kampung halaman, selalu kudengar Pipit sawah bernyanyi riang sambil mencari makan atau pasangan. Membungkus pagi hari dengan lantunan indah siulannya. Disisi lain para Petani dengan semangat mengolah sawah ladangnya untuk kehidupan yang menghidupi keluarganya.

Terkadang dikala malam, ada jangkrik sawah juga ikut menemani kodok bernyanyi riang memanggil hujan di langit gelap. Makin dalam suatu malam dengan syahdunya burung hantu bernyanyi. Serta langit gelap yang penuh gemintang. 

Pagiku di kota orang.pagiku kini diwarnai Lantunan suara klakson, deru-deru mesin, knalpot standar, knalpot bobok hingga sember. Semua berkumpul jadi satu di jalan ramai yang seakan-akan tak mampu menampung kendaraan. Macet!

Bekasi, kotaku merantau. Jadi buruh itu pekerjaan aku. Kalau dipikir-pikir meski macet Banyak kendaraan, polusi dan lain sebagainya, kota ini jauh lebih menjanjikan rupiah untuk orang sepertiku yang hanya lulusan SMK. Sebenarnya bukan "hanya" sih, tapi itulah faktanya. Toh sekolah SMK ku itu juga hasil keringat kedua orang tua. Tak mungkin hasil perjuangan mereka aku bilang"hanya". Tapi luar biasa.

Tak mungkin sebagai anak laki-laki aku santai dirumah sambil ngopi2 pagi. Menikmati nya berteman sepiring gorengan cireng. Itu mimpi yang indah sih.. tapi aku rasa tidak ada salahnya​suatu saat aku mampu melakukan itu.

Buruh pekerjaan aku. Ini bukanlah pekerjaan sampingan. Melainkan pekerjaan utamaku. Aku tak punya pilihan banyak kala itu. Aku hanya punya pilihan berdikari di kampung halaman atau merantau ke kota orang.

Kalau berdikari sih, dalam sejarah keluarga sampai kakek buyut ku belum ada yang jadi pengusaha. Rata-rata mereka adalah petani yang hampir 100% kehidupan dicurahkan pada sawah dan ladang. Mungkin sebab itu juga orang tuaku lebih menyarankan aku merantau saja, mencari sawah baru. Tidak seperti sawah mereka yang berlumpur, karena sawahku kini berupa bangunan tinggi dengan rangka baja dan mengeluarkan asap-asap hitam. Sebut saja pabrik.

Islansflug.com

Tapi sawahku katanya lebih menghasilkan rupiah. Kalau dihitung secara matematis sih iya. Namun tak sebanding dengan rindu akan kampung halaman yang semakin menumpuk bertahun tahun. Kadang aku juga ingin protes pada diri sendiri. Kenapa aku takut memulai sesuatu. Takut gagal dan sebagainya. Layaknya aku takut gagal jika tidak merantau ke kota orang. Di kampungku bisa dikatakan bila ada anak lulusan SMK dan masih setiap hari kesawah membantu orang tua. Itu bisa dikatakan belum bekerja. Padahal What am i doing in field is "do". Tapi bagi orang lain aku belum bekerja karena masih dikampung hanya membantu orang tua tanpa menghasilkan banyak rupiah. Seolah menjelaskan bahwa kerja = merantau. Disatu sisi kadang sedih, seakan mereka ingin menyuruh aku merantau keluar kampung tapi tidak dikatakan secara langsung.

Andai dulu aku berani memutuskan untuk tidak merantau. Mungkin hariku kini tak perlu terbebani akan rindu kampung yang teramat dalam. 

Kenapa penyesalan datang setelah 10 tahun.

Bukan datang saat sepuluh tahun merantau, sebenarnya semenjak awal akupun sudah merasakannya. Koreksi, bukan penyesalan, tapi lebih tepatnya rasa yang tidak puas akan semua ini. Seakan hati ini ingin berkata ini bukan aku. Aku tak semestinya begini. Kenapa aku harus merantau, menjadi wayang bagi pihak lain. Aku adalah wayang dari dalang. Mengikuti skenario yang sudah Dalang buat dengan sanagat baik. Padahal aku sendiri tak tahu apakah ini akan berujung pada akhir yang indah atau malah sebaliknya. Jika bukan akhir yang indah untukku mengapa aku harus melakukannya. Tetapi peran dalang terlalu dominan dalam hidup. Dia pemegang kendali tertinggi kehidupan. Dia mampu mengatur, menjalankan, memaksa bahkan mengendalikan semua sesuai kehendaknya. Atau sesuai pihak yang ada dibelakangnya. Kalian tahu tidak siapa Dalang itu? Dialah Uang. Mampu secara langsung menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu, agar money itu mendekat. 

Baiknya dalam sebuah perjalanan kehidupan seseorang, bukankah dia yang memegang kendali penuh atas dirinya. Merdeka dengan segala yang ada. Merdeka atas keputusannya sendiri. Bukan karena dimerdekakan orang lain atau merdeka atas uluran tangan manusia lain. Menjadi sutradara, penulis skenario, art of DOp, serta pemeran untuk kehidupan mereka sendiri. 
10 tahun bukan rentang yang singkat untukku. Buat semua orang juga aku rasa begitu. Dalam tekanan kebosanan yang sering menerpa hati, biasanya orang akan mencari kesibukan untuk hidupnya. Memenuhi rasa agar ruang hati penuh tanpa celah. Misalnya melakukan hobi(hal yang disukai). Aku memiliki kecenderungan suka pada anime dan robot. Misalnya lego robot yang dibuat dengan plastik. Misal Gundam. Aku memiliki dua gundam saat ini. Gundam freedom dan Gundam Swedia. Soal skala atau tingkatan aku tak begitu memperdulikan. Aku hanya mengejar satu hasrat yaitu memiliki. Padahal buat apa memiliki kefanaan dunia yang sama sekali tidak abadi. Betapa bodohnya aku terhibur oleh hobi yang sejatinya fana.

Anime banyak hadir di kehidupan aku. Dia menghibur dan banyak menginspirasi aku. Baik dari cara berfikir ataupun kata-kata yang ada dalam anime itu. Wibu istilah untuk para pecinta anime. Tapi aku tidak sebegitunya kayaknya dalam mencintai anime. Biasa saja, meski anime banyak yang mereview bagus, jika aku tidak suka, akupun tidak akan memaksa diri untuk menonton atau mendownloadnya.
Bagaimana lantas aku terjerumus pada hobi anime dan robot ini? Aku dari kecil sudah terbiasa hidup sederhana, tapi lebih tepatnya susah. Dalam keluargaku dulu itu makanan ialah hal dominan, kalau mainan adalah sekundernya​sekunder. Bisa dibilang sampingnya samping, atau nggak pentingnya dari hal nggak penting. Artinya tidak begitu penting. Lebih baik jika ada uang digunakan untuk membeli sesuatu yang bisa dimakan atau setidaknya bukan hal yang tidak ada kaitannya langsung dengan isi perut.

Aku ingat dulu jika ingin membeli mainan, aku harus ngerongsok untuk ditukar dengan penjual mainan. Btw dikampung dulu ada tukang mainan yang menjual mainan pada anak-anak dengan cara menukar dengan barang rongsokan. Karena hal itulah, mengais-ngais ditempat sampah tetangga bukan hal memalukan bagiku, setidaknya setelah terkumpul banyak, aku bisa membeli mainan yang aku suka. Dengan cara barter dengan penjualannya. Dia dapat rongsok ya untuk didaur ulang, aku dapat mainannya.adil Khan????

Kedua orang tua tidaklah melarang, karena aku tidak minta uang pada mereka untuk sekedar membeli mainan yang aku mau. Kembali lagi ke hal tadi, kalau orang tuaku ada uang lebih baik untuk biaya sekolah dan juga makan. Prioritas lah kalau itu.
Ketika aku sudah bekerja dan memiliki uang sendiri, aku jadi teringat zaman dulu. Untuk membeli mainan aku harus ngerongsok. Tentunya banyak mainan yang tak mampu aku beli dan keinginan itu masih ada menggantung hingga sekarang. Makanya ketika aku punya uang, aku teringat akan keinginan dan mimpi yang dulu yang ingin aku raih. Memiliki Robot Gundam dll. Dan sekarang aku bisa mewujudkan meski belum semua. Setidaknya aku sedikit senang bisa menuruti keinginan hati ini kalau kecil dulu.

Sebab itu juga, kalau aku melihat mainan rasanya teringat zaman dulu. Zaman penuh nostalgia, kenangan indah, dan banyak lagi hal yang bisa aku dapat dari itu semua.
Sekarang aku sudah merantau, sudah 10 tahun, keadaan banyak berubah. Begitu juga perekonomian keluarga yang bisa dikatakan lebih baik dari dulu saat aku belum merantau. Terkadang aku merasa hidupku seperti mimpi, belum puas aku menikmati sudah kuterbangun darinya. Andai saja hidup semudah dan seindah mimpi. Namun, begitulah kehidupan harus terus berputar, berganti, dan juga saling meregenerasi. Meski begitu jangan pernah takut untuk bermimpi. Karena mimpi yang akan menuntun khayalan menjadi nyata.

Salam...

Fikar Lunggana,,,